Selasa, 03 September 2013

Pribadi Muslim Berprestasi



Sekiranya kita hendak berbicara tentang Islam dan kemuliaannya, ternyata tidaklah cukup hanya berbicara mengenai ibadah ritual belaka. Tidaklah cukup hanya berbicara seputar shaum, shalat, zakat, dan haji. Begitupun jikalau kita berbicara tentang peninggalan Rasulullah SAW, maka tidak cukup hanya mengingat indahnya senyum beliau, tidak hanya sekedar mengenang keramah-tamahan dan kelemah-lembutan tutur katanya, tetapi harus kita lengkapi pula dengan bentuk pribadi lain dari Rasulullah, yaitu : beliau adalah orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi!
            Hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW selalu terjaga mutunya. Begitu mempesona kualitasnya. Shalat beliau adalah shalat yang bermutu tinggi, shalat yang prestatif, khusyuk namanya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara kualitasnya, bermutu tinggi, ikhlas namanya. Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa dijaga untuk suatu mutu yang tertinggi.
            Ya, beliau adalah pribadi yang sangat menjaga prestasi dan mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup dilakukannya. Tidak heran kalau Allah Azza wa Jalla menegaskan, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah ..." (QS. Al Ahzab [33] : 21)
            Kalau ada yang bertanya, mengapa sekarang umat Islam belum ditakdirkan unggul dalam kaitan kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi ini? Seandainya kita mau jujur dan sudi merenung, mungkin ada hal yang tertinggal di dalam menyuritauladani pribadi Nabi SAW. Yakni, kita belum terbiasa dengan kata prestasi. Kita masih terasa asing dengan kata kualitas. Dan kita pun kerapkali terperangah manakala mendengar kata unggul. Padahal, itu merupakan bagian yang sangat penting dari peninggalan Rasulullah SAW yang diwariskan untuk umatnya hingga akhir zaman.
            Akibat tidak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut, kita pun jadinya tidak lagi merasa bersalah andaikata tidak tergolong menjadi orang yang berprestasi. Kita tidak merasa kecewa ketika tidak bisa memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Lihat saja shalat dan shaum kita, yang merupakan amalan yang paling pokok dalam menjalankan syariat Islam. Kita jarang merasa kecewa andaikata shalat kita tidak khusyuk. Kita jarang merasa kecewa manakala bacaan kita kurang indah dan mengena. Kita pun jarang kecewa sekiranya shaum Ramadhan kita berlalu tanpa kita evaluasi mutunya.
            Kita memang banyak melakukan hal-hal yang ada dalam aturan agama tetapi kadang-kadang tidak tergerak untuk meningkatkan mutunya atau minimal kecewa dengan mutu yang tidak baik. Tentu saja tidak semua dari kita yang memiliki kebiasaan kurang baik semacam ini. Akan tetapi, kalau berani jujur, mungkin kita termasuk salah satu diantara yang jarang mementingkan kualitas.
            Padahal, adalah sudah merupakan sunnatullah bahwa yang mendapatkan predikat terbaik hanyalah orang-orang yang paling berkualitas dalam sisi dan segi apa yang Allah takdirkan ada dalam episode kehidupan dunia ini. Baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, Allah Azza wa Jalla selalu mementingkan penilaian terbaik dari mutu yang bisa dilakukan.
            Misalnya saja shalat, "Qadaflahal mu’minuun. Alladziina hum fii shalaatihim" (QS. Al Mu’minuun [23] : 1-2). Amat sangat berbahagia serta beruntung bagi orang yang khusyuk dalam shalatnya. Artinya, shalat yang terpelihara mutunya, yang dilakukan oleh orang yang benar-benar menjaga kualitas shalatnya. Sebaliknya, "Fawailullilmushalliin. Alladziina hum’an shalatihim saahuun" (QS. Al Maa’uun [107] : 4-5). Kecelakaanlah bagi orang-orang yang lalai dalam shalatnya!
            Amal baru diterima kalau benar-benar bermutu tinggi ikhlasnya. Allah Azza wa Jalla berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus" (QS. Al Bayyinah [98] : 5). Allah pun tidak memerintahkan kita, kecuali menyempurnakan amal-amal ini semata-mata karena Allah. Ada riya sedikit saja, pahala amalan kita pun tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Ini dalam urusan ukhrawi.
            Demikian juga dalam urusan duniawi produk-produk yang unggul selalu lebih mendapat tempat di masyarakat. Lebih mendapatkan kedudukan dan penghargaan sesuai dengan tingkat keunggulannya. Para pemuda yang unggul juga bisa bermamfaat lebih banyak daripada orang-orang yang tidak memelihara dan meningkatkan mutu keunggulannya.
            Pendek kata, siapapun yang ingin memahami Islam secara lebih cocok dengan apa-apa yang telah dicontohkan Rasul, maka bagian yang harus menjadi pedoman hidup adalah bahwa kita harus tetap tergolong menjadi orang yang menikmati perbuatan dan karya terbaik, yang paling berkulitas. Prestasi dan keunggulan adalah bagian yang harus menjadi lekat menyatu dalam perilaku kita sehari-hari.
            Kita harus menikmati karya terbaik kita, ibadah terbaik kita, serta amalan terbaik yang harus kita tingkatkan. Tubuh memberikan karya terbaik sesuai dengan syariat dunia sementara hati memberikan keikhlasan terbaik sesuai dengan syariat agama. Insya Allah, di dunia kita akan memperoleh tempat terbaik dan di akhirat pun mudah-mudahan mendapatkan tempat dan balasan terbaik pula.
            Tubuh seratus persen bersimbah peluh berkuah keringat dalam memberikan upaya terbaik, otak seratus persen digunakan untuk mengatur strategi yang paling jitu dan paling mutakhir, dan hati pun seratus persen memberikan tawakal serta ikhlas terbaik, maka kita pun akan puas menjalani hidup yang singkat ini dengan perbuatan yang Insya Allah tertinggi dan bermutu. Inilah justru yang dikhendaki oleh Al Islam, yang telah dicontohkan Rasulullah SAW yang mulia, para sahabatnya yang terhormat, dan orang-orang shaleh sesudahnya.
            Oleh sebab itu, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada setiap diri hamba-hambanya. Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Allah SWT, Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan segala isinya ini!
            Ingat, wahai hamba-hamba Allah, "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ...!’ (QS. Ali Imran [3] : 110).

naskah publikasi Rosita



GAMBARAN KEJADIAN RESPIRATORY DISSTRES SYNDROME PADA BAYI BARU LAHIR DI RUANG PERINATOLOGI RS. DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN


Rosita Mawar Indah Sari1 Sulasmi1, Mohdari2
1.      Akademi Kebidanan Sari Mulia, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
2.      Sekolah Tinggi Ilmu Nasional (STINAS), Banjarmasin, Kalimantan Selatan


Abstrak
Masalah pada penelitian ini berdasarkan data register di ruang perinatal RS Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin dari bulan Januari–Desember 2011 dari 1377 kelahiran, 14.7% diantaranya mengalami asfiksia dan 7.62% diantaranya mengalami BBLR. Dari data asfiksia dan BBLR di ruang perinatal dapat berdampak pada kejadian RDS. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui Gambaran Kejadian Respiratory Disstres Syndrom pada bayi baru lahir di ruang perinatology RS. Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2012.Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Metode pengumpulan sampel penelitian adalah total populasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa kejadian RDS terbanyak dialami oleh bayi baru lahir rendah yang mengalami asfiksia berat sebanyak 25 kejadian dengan persentase 30,46%. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa semua klasifikasi dari faktor predisposisi berat badan lahir dan asfiksia memiliki peluang untuk terjadi RDS. Saran dari hasil penelitian bagi tenaga kesehatan dapat mengetahui dan mendeteksi secara dini hal yang berpotensi menyebabkan RDS.

Kata Kunci : Respiratory Disstres Syndrom (RDS), Bayi baru lahir.




PENDAHULUAN
Angka kematian bayi menurut Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin yaitu pada tahun 2010 kelahiran mati sebanyak 36 kasus, kematian bayi baru lahir umur 0-7 hari sebanyak 48 kasus, kematian bayi baru lahir umur 8-28 hari sebanyak 5 kasus, dan yang lebih dari 28 hari sebanyak 5 kasus, sedangkan pada tahun 2011 angka kelahiran mati sebanyak 8 orang, kematian bayi baru lahir umur 0-7 hari sebanyak 56 kasus, kematian bayi baru lahir umur 8-28 hari sebanyak 10 kasus dan yang lebih dari usia 28 hari sebanyak 11 kasus. Berdasarkan data tersebut yang berarti angka kematian bayi di daerah Banjarmasin, Kalimantan selatan ikut menyumbang angka kematian bayi provinsi.
Penyebab kematian bayi baru lahir sangat beragam yaitu berat badan bayi lahir sangat rendah atau premature, bayi dengan kelainan seperti kelainan genetika akibat kromosom, kelainan fungsi jantung, kelainan fungsi paru atau pneumothoraks / pneumomediastinum, penyakit membran hialin (PMH), pneumonia, aspirasi cairan yang menyebabkan Respiratory disstres syndrome. Dan RDS ini merupakan penyebab utama kematian bayi prematur.
Berdasarkan register di ruang perinatal RS Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin dari bulan Januari – Desember 2011 dari 1377 kelahiran, 14.7% diantaranya mengalami asfiksia dan 7.62% diantaranya mengalami BBLR.
Dari data asfiksia dan BBLR di ruang perinatal dapat berdampak pada kejadian RDS. Dari hasil study pendahuluan yang didapatkan dari buku register ruang perinatal BLUD RS Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin dari bulan januari-september 2012 diketahui bahwa 65 bayi baru lahir mengalami respiratory disstres syndrome berdasarkan faktor predisposisinya seperti berat badan bayi lahir rendah dan asfiksia.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Gambaran Kejadian Respiratory Disstres Syndrom Pada Bayi Baru Lahir di ruang perinatology RS. Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin”

TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui Gambaran Kejadian Respiratory Disstres Syndrom Pada Bayi Baru Lahir di ruang perinatologi RS. Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena (termasuk bidang kesehatan) yang terjadi didalam suatu populasi tertentu. Pada umumnya survey diskriptif digunakan untuk membuat penelitian terhadap suatu kondisi dan penyelenggaraan suatu program dimasa sekarang, kemudian hasilnya digunakan untuk menyusun perencanaan perbaikan program tersebut (Notoatmodjo, 2010).
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Hidayat, 2007).
Variabel yang ditentukan penulis pada penelitian ini hanya menggunakan satu variabel yaitu kejadian respiratory disstres syndrome, yang terjadi pada bayi baru lahir khususnya pada bayi dengan faktor predisposisinya seperti asfiksia dan Berat Bayi Lahir Rendah, karena kedua faktor predisposisi tersebut sangat berpengaruh untuk menimbulkan terjadinya respiratory disstres syndrome.
            Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bayi yang dilahirkan di RS. Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin yang mengalami Respiratori disstres syndrome Pada bulan Januari hingga september tahun 2012 Populasi sebanyak 65 bayi.
Penelitian ini menggunakan teknik Sampling jenuh, sehingga ditetapkan sampel keseluruhan sebanyak 65 bayi. Penelitian ini bersifat Retrospektif (menggambarkan kejadian atau peristiwa masa lampau), sehingga dengan mengetahui gambaran kejadian masa lalu tentang respiratory disstres syndrome berdasarkan faktor predisposisinya seperti asfiksia dan berat bayi lahir rendah, maka dapat ditanggulangi sedini mungkin agar tidak terjadi bayi lahir dengan asfiksia dan berat bayi lahir rendah, Sehingga dapat menurunkan kejadian angka kesakitan bayi baru lahir dengan respiratory disstres syndrome berdasarkan faktor predisposisinya.
metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif karena bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena atau kejadian berdasarkan data yang telah terkumpul, data yang disajikan melalui tabel dan perhitungan persentase dengan rumus :
        F
P =       X 100%
        N
Keterangan :
P  =  Persentase
F  =  Frekuensi tiap kategori
N  =  Jumlah sampel
 HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1 : Distribusi frekuensi kejadian Respiratory Disstres Syndrom berdasarkan faktor predisposisi Berat badan lahir

No
Faktor Predisposisi
Klasifikasi
Berat Badan (gram)
F
%
1
Berat Badan Lahir
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
1500-2500 gram
42
64,62
Berat Badan Lahir Sangat Rendah (BBLSR)
1000-1500 gram
12
18,46
Berat Badan Lahir Amat Sangat Rendah (BBLAR)
< 1000 gram
11
16,92
Jumlah
65
100

Tabel 2 : Distribusi frekuensi kejadian Respiratory Disstres Syndrom berdasarkan faktor predisposisi Asfiksia

No
Faktor Predisposisi
Klasifikasi
Score Apgar
F
%
1
Asfiksia
Asfiksia Berat
0-3
40
61,54
Asfiksia Sedang
4-6
17
26,15
Asfiksia Ringan
7
8
12.30
Jumlah
65
100

Tabel 3 : Cros Tabulasi kejadian Respiratory Disstres Syndrom  berdasarkan faktor predisposisi berat badan lahir rendah dan asfiksia

Klasifikasi faktor predisposisi
Asfiksia Berat
%
Asfiksia Sedang
%
Asfiksia Ringan
%
Jumlah
%
BBLR
25
38,46
13
20
4
6,15
42
64,62
BBLSR
7
10,76
1
1,53
4
6,15
12
18,46
BBLAR
8
12,31
3
4,61
0
0
11
16,92
Jumlah
40
61,54
17
26,15
8
12,30
65
100


Hasil penelitian menunjukan bahwa kejadian Respiratory Disstres Syndrom banyak dialami oleh bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah dan asfiksia. Berat badan bayi lahir terbanyak dialami pada bayi dengan klasifikasi berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu berat badan bayi antara 1500-2500 gram jumlah kejadian sebanyak 42 bayi baru lahir dengan persentase 64,62%. Untuk bayi baru lahir normal didefinisikan bayi lahir dengan presentasi belakang kepala melalui jalan lahir (pervaginam), usia kehamilan genap 37-42 minggu dengan berat badan 2500-4000 gram. Sehingga pada bayi prematur terjadi kurang maturnya organ-organ tubuh bayi, begitu juga dengan paru-parunya yang memiliki sulfaktan yang kurang atau tidak adekuatnya jumlah sulfaktan untuk membuat paru-paru mengembang, sehingga perlunya terapi sulfaktan segera setelah lahir.
pada kasus asfiksia berat bayi akan mengalami asidosis (perubahan ph tubuh) sehingga memerlukan perbaikan dan resusitasi aktif dan segera. Pada penelitian didapatkan kejadian tertinggi pada asfiksia terjadi pada bayi lahir dengan asfiksia berat dengan jumlah kejadian sebanyak 40 kejadian dan jumlah persentase 61,54%.
Klasifikasi bayi dengan berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) hanya terjadi pada 12 bayi baru lahir atau berada pada urutan kedua dengan persentase 18,46%, sedangkan klasfikasi berat badan lahir amat sangat rendah (BBLAR) terjadi 11 kejadian dengan persentase 16,92%. Pada klasifikasi asfiksia sedang terjadi 12 kejadian pada bayi baru lahir dengan persentase 26,15%, dan klasifikasi asfiksia ringan 8 kasus dengan persentase 12,31%.
klasifikasi bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah yang mengalami asfiksia berat sebanyak 25 kejadian respiratory disstres syndrom sehingga penanganan yang sebaiknya dilakukan sesuai dengan teori yaitu mempertahankan jalan nafas dengan cara ventilisasi dan oksigenasi yang adekuat, mempertahankan keseimbangan suhu tubuh bayi baru lahir, mempertahankan cairan dan elektrolit. kejadian berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) yang mengalami asfiksia berat sebanyak 7 kejadian, bayi baru lahir dengan berat badan lahir amat sangat rendah (BBLAR) yang mengalami asfiksia berat sebanyak 8 kejadian, bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang mengalami asfiksia sedang sebanyak 13 kejadian, bayi baru lahir dengan berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) yang mengalami asfiksia sedang sebanyak 1 kejadian, bayi baru lahir dengan berat badan lahir amat sangat rendah (BBLAR) yang mengalami asfiksia sedang sebanyak 17 kejadian, bayi baru lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang mengalami asfiksia ringan sebanyak 4 kejadian, bayi baru lahir sangat rendah (BBLSR) yang mengalami asfiksia ringan sebanyak 4 kejadian, dan tidak ada kejadian bayi baru lahir dengan berat badan lahir amat sangat rendah (BBLAR) yang mengalami asfiksia sedang.
Diketahui dari hasil penelitian bahwa kedua faktor predisposisi berat badan lahir rendah (BBLR) dan asfiksia berat menjadi penyebab terjadinya respiratory disstres syndrome karena dengan ketidak maturan paru pada bayi baru lahir akibat bayi prematur dan asfiksia menyebabkan kurangnya sulfaktan yang membantu kerja dari paru-paru bayi. Sesuai dengan patofisiologi dari respiratory disstres syndrom jika sulfaktan menurun maka akan terjadi distensibilitas atau ketidak sesuaian aliran oksiden kedalam paru yang masuk menyebabkan oksigen didalam darah juga menurun sehingga terjadi atelektasis (kolaps paru-paru atau paru-paru tidak mengembang) kemungkinan yang terjadi adalah usaha bayi untuk bernafas semakin meningkat menyebabkan turunnya ventilisasi sehingga karbondioksida meningkat terjadi asidosis (perubahan ph), tekanan darah pada arteri menurun, aliran darah pada paru-paru menurun, tekanan pada arteri pulmonal meningkat menyebabkan sulfaktan semakin menurun, sehingga pelumas untuk bernafas semakit berkurang, oleh sebab itu terjadi asfiksia, terutama asfiksia berat. Sesuai dengan hasil penelitian bahwa klasifikasi kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) dan asfiksia berat lebih besar persentasenya, hal ini menunjukan bahwa kejadian respiratory disstres syndrome yang terjadi pada bayi baru lahir di RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin sesuai dengan faktor predisposisi yang ada diteori.
Gambaran penyebab Respiratory Disstres Syndrom disebabkan karena asfiksia dan berat badan lahir berdasarkan cros tabulasi atau tabulasi silang didapatkan penyebab tertinggi yaitu bayi dengan berat badan lahir rendah yang mengalami asiksia berat yaitu sebanyak 25 kasus di  RS. Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 2012.
            Sehingga pada penelitian ini faktor predisposisi yang berpengaruh terhadap kejadian respiratory disstres syndrome adalah bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang mengalami asfiksia berat.
UCAPAN TERIMA KASIH
            Saya sangat berterima kasih kepada ibu Sulasmi, SST selaku pembimbing I dan kepada bapak Drs. H. Mohdari, M.Si selaku pembimbing II dan ucapan terima kasih kepada RS. Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin yang telah memberikan izin serta tempat untuk melakukam penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Alimul, Hidayat Aziz. 2007. Metode Penelitian Kebidanan Dan Teknik Analisa Data.
Betz, Cecily L & Linda A. Sowden. 2006. Penerbit buku kedokteran EGC. Buku Saku Keperawatan Pediatri.
Dewi, Vivian Nani Lia. (2010). Asuhan Neonatus Bayi Dan Anak Balita. Jakarta : Salemba Medika.
Drew, David, dkk. (2009). Resusitasi Bayi Baru Lahir Seri Praktik Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran ECG
Ledewig, Patricia W & Marcia L London, Sally B old. 2006. Penerbit buku kedokteran EGC. Asuhan Ibu Dan Bayi Baru Lahir.
Maryunani, Anik & Nurhayati. 2009. Asuhan Kegawat Daruratan Dan Penyulit Pada Neonatus.
Notoatmodjo. (2010). Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Proverawati, Atikah & Cahyo Ismawati. (2010). Berat Badan Lahir Rendah. Yogyakarta : Nuha Medika.
Regiter Bayi Baru Lahir Di Ruang Perinatologi BLUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin Tahun 20011-2012.
www.katalog.com. Katalog Karya Tulis Ilmiah. Diakses 3 Januari 2013.
www.Penelitian.com. Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Airlangga Terapi Sulfaktan Pada Hyalin Membran Disease (Respyratory Disstres Syndrome). Diakses 3 Januari 2013

Senin, 28 Mei 2012

apakah ini kebencian???

kenapa aku tak mengerti tentang rasa yang seharusnya ku mengerti...
kenapa aku tak mengerti ketulusan yang seharusnya ku mengerti...

kenapa hatiku selalu bertindak sesuai fikiranku..
kenapa logika ku mengusai seluruh tubuhku..
apakah ini keegoisan??
ataukah ambisius??

kadang aku merasa lemah dengan semua ini,,,
kadang aku merasa letih dengan semua ini,,
kenapa aku menjadi diriku seperti sekarang ini,,,
aku terkadang membenci diriku semdiri,,
karena tak mampu meneteskan airmata didepan mereka...
aku benci tidak bisa membuat mereka memilih pilihannya sendiri,,
aku benci kenapa aku harus mengatur semuanya,,
aku terkadang juga benci dengan mereka yang tidak bisa menentukan pilihan,,
hanya mengandalkan orang lain....

bukan berarti aku tidak ingin membantu kalian,,
bukan berarti aku tidak ingin membagi ilmu ini dengan kalian..
namun aku masih merasa kurang dengan ilmu yang kumiliki,,
aku masih perlu menambah banyak ilmu yang lain,,
aku masih ingin mencari ilmu-ilmu baru yang belum ku ketahui...
namun kenapa kalian egois,, hanya memerlukanku...
PERCALAH PADA DIRIMU SENDIRI...

aku berada disismu bukan untuk menjadi pengajarmu,,
aku berada disismu karena aku shabamu..
percayalah kamu bisa...
kamu tidak akan mengandalkanku lagi saat kau tahu kemampuanmu...

aku tidak membencimu,,,
namun aku membenci diriku karena tidak mampu membuatmu mempercayai dirimu sendiri.....

kumohon kuatlah,, percayalah....
YOU CAN DO IF YOU THINK YOU CAN....